Natalan dan Makan-makan…
Hari Natal yang merupakan hari raya yang sangat penting bagi umat kristiani. Tentu saja hari Natal merupakan hari yang ditunggu-tunggu dan dirayakan dengan meriah di beberapa daerah.
Saya pernah merayakan Natal bersama keluarga Djanggur di kota Ruteng, ibukota Manggarai, Flores. Masyarakat di Ruteng memperingati Natal bukan saja dengan pohon natal, tetapi dengan lampion. Lampion yang dibuat dari lidi dan kertas minyak warna-warni ini diberi lampu atau lilin, lalu digantung di atap depan rumah. Bentuknya bermacam-macam, kebanyakan berupa bintang yang melambangkan bintang kejora yang mendahului kelahiran Yesus Kristus. Ada juga yang berbentuk pohon Natal atau gereja. Saat itu, terjadi penggiliran listrik di Ruteng, sehingga setiap 3 hari terjadi pemadaman lampu di tempat kami tinggal. Ketika lampu padam, suasana justru menjadi sangat syahdu, karena di tengah kegelapan kota, satu-satunya penerangan jalan adalah puluhan lampion di tiang-tiang listrik dan teras rumah...
Pada tanggal 25 Desember, seluruh kegiatan di Ruteng berhenti. Yang terlihat hanyalah barisan orang yang berjalan menuju ke gereja. Rombongan dari kampung-kampung akan datang tepat waktu dengan kepala desa berjalan paling depan, lengkap dengan baju adat dan peci khas Manggarai. Siangnya, biasanya diadakan makan bersama dengan keluarga, sambil bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat dekat. Disinilah muncul makanan khas Flores yang sudah disiapkan sejak sehari sebelumnya: ikan asin Maumere, sayur daun pakis, dan lain-lain.
Di Sumba, Natal dirayakan dengan cara lain. Silaturahmi dilakukan dari tengah malam tanggal 24 Desember sampai subuh tanggal 25 Desember. Sesudah selesai kebaktian malam natal, warga akan melanjutkan acara dengan mengunjungi kerabat dan tetangga untuk bersilaturahmi. Kota Waingapu yang biasanya sunyi senyap di waktu malam, menjadi meriah oleh warga yang lalu-lalang dan sibuk bersilaturahmi. Masyarakat yang berasal dari Flores dan Adonara biasanya membentuk kelompok lalu menabuh gendang dan memetik gitar sambil membentuk konvoi. Mereka berjalan di jalan-jalan utama mengunjungi rumah kerabat mereka, sambil menyanyikan lagu puji-pujian daerah, mirip konvoi membangunkan orang sahur di bulan puasa.
Di keluarga saya, Natal dirayakan dengan relatif sederhana. Kami sekeluarga biasanya berkumpul di rumah lalu bersama-sama hadir di kebaktian Natal tanggal 25 Desember pagi. Biasanya kami kemudian makan siang bersama, lalu bersilaturahmi dengan kerabat dekat. Menunya macam-macam, salah satunya adalah kue kering khas natal. Untuk malamnya, kami kemudian pergi ke Toko Roti Bawean dan memesan satu loyang lapis legit untuk dimakan bersama. Walaupun baru pulang ke Bandung besok – air liur saya sudah menetes membayangkan wangi mentega dari lapis legit itu!
Selamat hari Natal untuk rekan-rekan yang merayakan – Salam sejahtera untuk kita semua!
Saya pernah merayakan Natal bersama keluarga Djanggur di kota Ruteng, ibukota Manggarai, Flores. Masyarakat di Ruteng memperingati Natal bukan saja dengan pohon natal, tetapi dengan lampion. Lampion yang dibuat dari lidi dan kertas minyak warna-warni ini diberi lampu atau lilin, lalu digantung di atap depan rumah. Bentuknya bermacam-macam, kebanyakan berupa bintang yang melambangkan bintang kejora yang mendahului kelahiran Yesus Kristus. Ada juga yang berbentuk pohon Natal atau gereja. Saat itu, terjadi penggiliran listrik di Ruteng, sehingga setiap 3 hari terjadi pemadaman lampu di tempat kami tinggal. Ketika lampu padam, suasana justru menjadi sangat syahdu, karena di tengah kegelapan kota, satu-satunya penerangan jalan adalah puluhan lampion di tiang-tiang listrik dan teras rumah...
Pada tanggal 25 Desember, seluruh kegiatan di Ruteng berhenti. Yang terlihat hanyalah barisan orang yang berjalan menuju ke gereja. Rombongan dari kampung-kampung akan datang tepat waktu dengan kepala desa berjalan paling depan, lengkap dengan baju adat dan peci khas Manggarai. Siangnya, biasanya diadakan makan bersama dengan keluarga, sambil bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat dekat. Disinilah muncul makanan khas Flores yang sudah disiapkan sejak sehari sebelumnya: ikan asin Maumere, sayur daun pakis, dan lain-lain.
Di Sumba, Natal dirayakan dengan cara lain. Silaturahmi dilakukan dari tengah malam tanggal 24 Desember sampai subuh tanggal 25 Desember. Sesudah selesai kebaktian malam natal, warga akan melanjutkan acara dengan mengunjungi kerabat dan tetangga untuk bersilaturahmi. Kota Waingapu yang biasanya sunyi senyap di waktu malam, menjadi meriah oleh warga yang lalu-lalang dan sibuk bersilaturahmi. Masyarakat yang berasal dari Flores dan Adonara biasanya membentuk kelompok lalu menabuh gendang dan memetik gitar sambil membentuk konvoi. Mereka berjalan di jalan-jalan utama mengunjungi rumah kerabat mereka, sambil menyanyikan lagu puji-pujian daerah, mirip konvoi membangunkan orang sahur di bulan puasa.
Di keluarga saya, Natal dirayakan dengan relatif sederhana. Kami sekeluarga biasanya berkumpul di rumah lalu bersama-sama hadir di kebaktian Natal tanggal 25 Desember pagi. Biasanya kami kemudian makan siang bersama, lalu bersilaturahmi dengan kerabat dekat. Menunya macam-macam, salah satunya adalah kue kering khas natal. Untuk malamnya, kami kemudian pergi ke Toko Roti Bawean dan memesan satu loyang lapis legit untuk dimakan bersama. Walaupun baru pulang ke Bandung besok – air liur saya sudah menetes membayangkan wangi mentega dari lapis legit itu!
Selamat hari Natal untuk rekan-rekan yang merayakan – Salam sejahtera untuk kita semua!
